Di tengah melemahnya pertumbuhan ekonomi global (Bank Dunia 2,3%; OECD 3,2%; PBB 2,4%; IMF 3,0) dan ketegangan geopolitik, isu transisi energi mendapat tantangan sangat keras. Ibarat survival versus sustainability.
Situasi di lingkup regional dan nasional pun tidak terlalu jauh dari kondisi itu. Pelemahan ekonomi memaksa negara-negara berpenghasilan rendah seperti Indonesia menunda atau mengurangi investasi transisi energi demi prioritas jangka pendek seperti stabilitas ekonomi dan pemenuhan kebutuhan dasar.
Lalu bagaimana nasib target-target ambisius Indonesia yang capaiannya sering menjadi slogan: bauran energi terbarukan mencapai 31% pada 2030 dan net zero pada 2060?
Dengan berbagai reportase, investigasi, dan riset, para jurnalis memiliki wawasan, pemahaman, dan cara pandang yang berbeda dan bisa memperkaya kelompok lain seperti civil society organization, dalam hal ini Transisi Bersih, untuk merespons persoalan lingkungan di level nasional maupun mondial secara lebih adil dan efektif. Jika dikaitkan dengan empat objectives Transisi Bersih: batu bara, nikel, Danantara, dan minyak sawit, FGD ini menghadirkan empat jurnalis yang berbicara mengenai isu transisi energi yang saling bersinggungan dengan studi dan misi pemengaruhan kebijakan negara oleh Transisi Bersih ke depan.
Dari focus group discussion ini diharapkan muncul pilihan-pilihan strategi adaptif dan efektif, bahkan bisa saja radikal, dalam upaya mendorong terwujudnya proses transisi energi dari energi kotor ke energi ramah lingkungan dan berkelanjutan.
