Menghijaukan Hilirisasi Nikel: dari Beban Lingkungan Menjadi Penggerak Transisi Energi

Menghijaukan Hilirisasi Nikel: dari Beban Lingkungan Menjadi Penggerak Transisi Energi

Hilirisasi nikel merupakan agenda strategis nasional Indonesia, namun saat ini justru menjadi hambatan bagi pencapaian target Net Zero Emissions (NZE) 2060 karena tingginya ketergantungan pada energi batu bara dan lemahnya standar ESG. Intensitas emisi dari industri nikel Indonesia tercatat 57–70 ton CO₂ per ton, jauh di atas rata-rata global. 

Policy paper ini menawarkan solusi transformasi menuju “hilirisasi hijau dan bernilai tambah tinggi” melalui tiga strategi utama: (1) transisi energi dari batu bara ke energi terbarukan, (2) peningkatan standar ESG, serta (3) pencabutan insentif fiskal dan penerapan pajak ekspor nikel. Ketiga strategi ini akan menaikkan biaya produksi, namun justru meningkatkan nilai tambah ekonomi dan Produk Domestik Bruto (PDB) melalui efek pengganda Keynesian. Indonesia memiliki dua modal utama untuk menjalankan strategi tersebut, yaitu (1) pemilik cadangan dan produsen nikel terbesar dunia, serta (2) pasar nikel global yang tidak elastis terhadap harga. 

Dengan hilirisasi hijau dan bernilai tambah tinggi, Indonesia dapat mengurangi dampak kerusakan lingkungan, meningkatkan nilai tambah ekonomi dan pendapatan masyarakat, serta meningkatkan pendapatan pemerintah sekaligus. Indonesia dapat membiayai transisi energi menuju NZE secara mandiri dan membebankan sebagian biayanya ke negara-negara industri.